Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Return on Asset terhadap Return Saham pada Subsektor Farmasi yang Terdafar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2024
DOI:
https://doi.org/10.57141/kompeten.v5i2.330Keywords:
Inflasi, Suku Bunga, Return on Asset, Return SahamAbstract
Penelitian ini mengevaluasi apakah inflasi, suku bunga, dan Return on Assets (ROA) memengaruhi imbal hasil saham perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 2020–2024, baik secara individu maupun bersama-sama. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-verifikatif dengan data panel sekunder dari 8 perusahaan yang dipilih melalui purposive sampling, menghasilkan 40 observasi perusahaan-tahun. EViews 13 digunakan untuk melakukan uji Chow, Hausman, dan Lagrange Multiplier untuk memilih model data panel, diikuti dengan pengujian asumsi klasik dan hipotesis. Commond Efek Model akhirnya dipilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi (0,6957>0,05), suku bunga (0,0945>0,05), dan ROA (0,9874>0,05) tidak memiliki pengaruh individu yang signifikan secara statistik terhadap imbal hasil saham. Pengaruh gabungan variabel juga tidak signifikan, tercermin dari probabilitas F sebesar 0,2733. Adjusted R-squared hanya 2,63%, yang berarti sebagian besar pergerakan imbal hasil saham farmasi selama Periode pengamatan terkait dengan faktor-faktor yang tidak termasuk dalam model, terutama sentimen pasar selama pandemi COVID-19 dan periode pemulihan berikutnya. Oleh karena itu, investor dan peneliti di masa depan juga sebaiknya mempertimbangkan faktor pasar yang lebih luas, sektor, dan faktor spesifik perusahaan saat mengevaluasi saham farmasi di masa-masa gangguan.



